SELAMAT JALAN AYAH

CERPEN

Buat ayah ku tercinta yang berada di surga selamat jalan ayahku sayang cerpen ini karena aku terinspirasi dr ketabahnmu, kegigihanmu, kasih ayangmu, perhatianmu sakitpun engkau diam. Dengan semangatku aku kan berusaha menggapai impianmu agar aku menjadi, lihatlah aku disini baik-

baik saja

DI SUSUN OLEH :

SHUFY RIF’AH MAKHSUSI

Januari 2009

Selamat Jalan Ayah

Usai adzan subuh seorang bapak berkopyah putih membangunkan sang buah hati yang selalu dibanggakan itulah aku, ayah yang selalu membimbingku, “nak ayo bangun sholat subuh.dulu ” Akupun bangun dan sholat berjamah, usai itu belajarlah sedikit baca-baca buku,  disampingku ayah yang sealulu menunggu, menemaniku belajar pagi, maupun malam begitu setianya dia padaku. Sang surya memancarkan cahaya pagi karenanya mebuat aku semangat memulai aktivitasku.Ayah duduk dikursi depan menikmati semilir angin sambil batuk-batuk dengan nafas yang tersengal-sengal “kenapa yah? Ayah sakit?”. Jawab ayah menatapku dengan

senyumnnya ,”tidak apa-apa nak, ayah baik-baik saja, sudah berangkatlah hati-hati nak.”

aku tak tega meninggalhan ayah bliyau mencoba menutupi rasa sakitnya, tak pernah memperlihatkan keluh kesahnya padaku. Sampailah aku di SMA blambangan kota gandrung Ketua OSIS melangkahkan kakinya di hadapanku dengan rambutnya yang tertata rapi, senyumannya yang manis, matanya yang selalu bercahaya, penuh harapan, dan hidungnya yang mancung, memperlihatkan wajahnya yang berkelas dan tampan sebut saja eric. Eric memang dekat dengan aku tapi kedekatan kami hanya sebatas teman. ”hai non kok bengong eric datang nech senyum dong.” ucap eric dengan cerianya. Jawabku aku kepikiran ayah tadi kliatan kurang sehat waktu aku tinggal sekolah apalagi ibu tak ada di rumah lagi kerja Otakku tak ada henti memikirkan ayah. Dalam beberapa hari ini Eric memberikan perhatian padaku sikapnya yang ceria biar aku bisa senyum. sepasang matanya sesekali bertabrakan mata denganku Eric jauh lebih tua dariku. Jalannya dipelankan mengikuti langkahku. Di koridor sekolah angin bertiup pelan, Angin yang bertiup pelan itu menyisingkan rok sekolahku sebaris gadis IPA duduk berjejer dipinggir lantai koridor. Tertawa mereka riang sambil menyapa Eric si Cowok Cakep. Eric bilang ” ohya.. nanti pulang sekolah aku ikut ke rumah kamu ya.. pengen tahu keadaan ayah.. aja”. Tapi aku ngerasa tak nyaman kalau eric ikut ke rumah di sisilain si Linda suka sama eric Linda sahabat yang paling aku sayangi dia meminta aku jauhin eric karena sangat sayangnya dia pada eric. Aku jawab ” eric gak usah ikut doakan saja ayah moga baek-baek saja”. Eric yang memberikan perhatian padaku dan memberikan pula perhatianya kepada ayah yang selalu menanyakan keadaan ayah, menjenguk ayah saat sakit tapi dengan tatapan mataku yang berkaca-kaca meninggalkan eric kita tak bisa akrkab seperti dulu.

kesedihan selalu menghantui langakahku, Aku bersahabat lama dengan eric mulai SD tapi..  Saat aku pulang Ku ketuk pintu rumah“ Assalamu’alaikum ada orang didalam, ayah assalamu’alaikum?” rumah kliatan sepi langsung masuk saja ah…. “ ternyata ayah tak sanggup menyahut salamku sambil mengelus-ngelus dadanya ayah yang biasanya menutupi rasa sakitnya tuturnya dengan pelan “nak dada ayah sakit”,

Ruang tunggu klinik itu masih penuh pengunjung. Aku dan ibu duduk di salah satu sudut bersebelahan dengan seorang perawat yang masih muda dengan sorotan mata menatapnya untung ibusudah datang kerja, rasa letih yang amat sangat dan pusing dikepala yang semakin terasa berat sealin itu fikiran disekolah tadi menyelimuti kepalaku masih saja aku memikirkan Eric dan linda. tambah mual aku, apalagi wangi parfum dari perawat tampan di sebelahku menghentak-hentak rasa mual dalam perut ini. Syukurlah  nama ibu segera dipanggil oleh seorang perawat yang manis. Segera aku dan ibu masuk ke ruang kerja dokter. Seraut wajah tegar menyambutku dengan senyum tipis. Aku pun duduk di kursi seberang meja berhadapan dengannya. Namun, tiba-tiba serasa ada yang menghentak dalam dadaku. Sesungguhnya apa yang docter katakan membuat aku merasakannya sebagai sesuatu yang teramat berat. Aku memerlukan segunung ketabahan dan kekuatan Perasaanku kepadamu ayah sungguh tak dapat kugambarkan bagaimana. Meski begitu aku menyadari kecintaan tuhan terhadap makhluknya harus kutempatkan di atas segalanya. Apa yang ada padaku saat ini bukanlah milikku namun ujian dari allah aku mencoba tuk tegar aku menemaninya tidur berdampingan perawat tampan menghampiriku memandangiku dan memberikan suntikan pada Ayah “awas mas liat pasienya donx kalau nyuntik, nanti salah nyuntik Lho” ucapku sambil bercanda. Sesekali aku teringat eric yang biasanya menjenguk ayah kini aku tak mau lagi dia di dekatku aku lakukan demi sahabatku Linda selama 7 bulan ayah sakit selama itu pula eric tak menampakkan batang hidungnhya.

Selama 7 bulan ayah merasakan sakitnya selama itu pula tiap malam perawat tampan dengan parfumnya yang menghentak-hentak hidungku merawat ayah menjaga ayah dengan penuh perhatian tanyaku “mas sudah lama kerja disini “. Jawabnya “tidak mbak saya disini hanya anak PKL dari sekolah kesehatan”. Tanyaku pada ibu  “bu ini sudah 7 bulan kenapa ayah tak kunjung sembuh ” jawabnya sambil makan pagi ” yang sabar nak kita kan sudah berusaha semaksimal mumngkin doakan saja ayahmu dan menerima apa yang allah berikan”. Selama itu pula ayah memegang tasbih dan berdzikir. Ayah selalu memandangiku seakan-akan tak bisa lama melihatku lagi bahkan sebelum ayah sakit dirumah juga begitu pagi, malam menemani aku belajar sampai ayah tertidur dikursi sebelumnya bekerja sampai sore dengan keringantnya mengguyur ditubuhnya, ucapku padanya “bajumu basah ayah”. Sa’at tertidur terlihat kakinya yang pecah-pecah dia memang ayahku ynag bertanggung jawab aku bangga padanya  ayah pernah bilang bilang “ nak sekolah yang rajin kejar apa yang telah kau cita-citakan doakan ayah semoga jika allah mengizinkan ayah masih bisa lama melihatmu sampai kau dewasa jadi sarjana”.

Sudah 7 bulan ini ayah masih berbaring di RSUD, Bulan oktober 2007 baru menunjuk angka dua puluh tuju aku heran semua serba tujuh. Sinar matahari hampir menyelesaikan tugasnya menyinari kota Gandrung suasana kelabu begitu terasa di RSUD, para pembesuk serasa enggan berbicara. Semua hening, semua menunduk tanda sedih. Butiran-butiran air mata menjatuhi pipi ibu,aku dan semua pembesuk. Semua bermunajat kepada Allah, aku tak tahan melihatnya. Bisikan ibuku  detik-detik perpisahan, “ Ya Allah, berikanlah kasih sayangmu kepada suamiku. Janganlah Engkau beri sakit yang begitu berat dan lama. Sembuhkanlah suamiku segera bila Engkau masih mengizinkannya hidup atau ah… Aku tak tega mengucapkan kata perpisahan ini, Ya Allah, Engkau Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-hambamu, bila Engkau sangat sayang padanya maka panggilah ia segera dalam dekapan kasih sayangMu  ku iklaskan suamiku untukmu”. saatlah ayah menghembuskan nafas terakhirnya aku tak tahan melihatnya sampai aku tak sadarkan diri. Akan ku lepas kau ayah aku tak bisa menahan kau pergi, Sang pemilik memintamu kembali disisinya, aku berdo’a disudut masjid RSUD

DO’A KU

Tuhan..

Kulantunkan do’aku kepadamu

Dengan jari yang gemetar

Aku hanya diri yang termangu dalam ketetapan masa

mestikah kutahan-tahan apa yang bukan milikku ketika kau memintanya

engkau telah memanggil dia

ridhoi bibir keluku basa bibir yang pucat bergetar dalam duka

dekaplah ia dalam lautan kasih sayangmu

terimalah ia disisimu.

Saat itulah Eric baru membesukku sambil berkata ”kamu wanita yang kuat ku yakin kamu bisa tegar” Beberapa bulan hari perpisahan itu berlalu, ujian semester telah usai ku langkahkan kakiku di sebuah pantai bersama teman-teman, lama aku tidak kesini, ingin menenangkan diriku Teman-teman mulai turun ke laut. Ah, pasti mereka bahagia, melepas lelah setelah satu minggu ujian”, Aku baringkan tubuhku di atas sebuah batu dibawah pohon Aku memang ingin sendiri. Kuubah posisi dudukku agar lebih enak.. Kurasakan desiran lembut angin pantai yang memperainkan jilbabku, “Alhamdulillah Pantai ini sepi sehingga aku dapat berbaring dengan aman”. Sebuah suara mengejutkanku“Assalamu’alaikum”. Aku bingung bercampur heran. Teman-teman masih asyik bermain air laut. Lalu, suara siapa itu? Keningku berkerut mencoba menerka-nerka, mungkinkah………“, Ya ini aku.Radhit”.jawabnya. “Rupanya kau memperhatikanku Radith“. Ucapku dengan heranya. Kesendirianmu yang membuat aku tertarik, kesini.” Jawab Radith dengan senyumnya. Radith sahabatku yang paling mengerti tentang aku kita berpisah sudah 3 tahun sebab suatu hal , dia melanjutkan sekolah kedokteranya diSBY. . “Bagaimana kau tahu aku disini?”. Tentu saja alisa bukankah kita pernah kesini sebelumnya, kepantai ini 3 tahun lalu, aku mengerti tiap kali kamu sedih kau selalu datang kepantai ini jangan biarkan dirimu sengsara, masih ada sesuatu diluar sana yang lebih bermanfaat buatmu, jangan biarkan ayahmu sedih disurga , bahagiakan dia do’akan dan bangkitkanlah semangatmu disini masih ada aku yang selalu ada disisimu”. Aku  menyesal selama ini hanya menyia-nyiakan waktu saja aku merasa tumbuh semangat baru oleh ucapannya. Kurasakan gemuruh ombak bersama angin menusuk telingaku dengan kuat. Radith berusaha meyakinkan diriku

tentang kebenaran ucapannya. Pipiku terasa basah, bukan ulah ombak.Tapi butiran air mataku yang menetes perlahan. Angin dan ombak masih setia menemaniku. Angin berusaha menghapus air mataku dengan lembut. Tanyaku dalam hati, “ayah lihatlah aku disini baik-baik saja hatiku sudah bangkit semangatku juga bahagialah kau diSurga do’aku selalu menyertaimu.

About nchupy

hbisne ujian Lgi nech..... ehemmm tp.... smngatt...!!!!!
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s